Jumat, 03 Mei 2013

MENUMBUHKEMBANGKAN KECERDASAN KENABIAN PESERTA DIDIK

MENUMBUHKEMBANGKAN KECERDASAN KENABIAN PESERTA DIDIK
Lukman Nur Hakim*

Peserta didik merupakan manusia yang memiliki berbagai kemampuan dan potensi (kecerdasan), baik yang diperoleh sejak lahir maupun dari hasil proses belajar. Namun dalam proses perjalan ada yang cepat tumbuh berkembang, ada yang belum atau kurang berkembang.
Bila didapatkan pesertadidik berada pada posisi kecerdasan yang belum berkembang, maka akan berdampak terhadap proses penyusuaian diri dalan setiap tahapan perkembangan. dengan demikian peserta didik perlu diberikan sentuhan-sentuhan latihan dan motivasi belajar yang diberikan pendidik.
Seorang pendidik selayaknya memahami kondisi psikologis peserta didik, nilai-nilai kemanusiaan dan keyakinan akan manusia dilahirkan selalu cenderung kepada kebenaran, siap melakukan banyak kebaikan dan mencoba selalu menjauhi dari segala penyimpangan-penyimpangan, baik norma sosial, adat maupun agama. Hal ini demi meraih keseimbangan kehidupan dunia menuju kehidupan selanjutnya.
Howard Gardner menggunakan istilah kecerdasan Eksistensial (Multiple intellgences) sebagai tolak ukur melihat kemampuan hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal), dan kemampuan dalam mengenal, memahami, mencintai ciptaan-Nya (hubungan horisontal). Konsep kecerdasan ini, yang jelas telah mampu mengangkat potensi alamiah yang dimiliki peserta didik, selanjutnya dunia pendidikan akan memiliki terbukaan ragam bakat dan berfikir, dan penerapan pembaharuan keilmuan yang berkesinambungan.
Kalau saja terjadi prilaku bohong dan kenakalan peserta didik yang ditemukan dilingkungan pendidikan. Hal ini tidak bisa lepas dari proses awal penyesuaian diri dikeluarga yang bermasalah. Peserta didik yang mengalami gangguan penyesuaian diri akan menggeser fitrah (potensi alamiah) ke posisi diluar sifat dasar manusia yang akan mengganggu perkembangan cara berpikir, berbicara dan berprilaku.
Lebih jelas Az-Zahrani (2005) dalam konseling perspektif Al-Quran dan Al Hadits, mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu dalam keadaan memeluk agama yang lurus (hanif) atau islam, siap untuk mengenal, mengabdi dan memegangteguh beribadah hanya kepada Allah Swt.
Sarlito Wirawan Sarwono (2010) setidaknya memberikan pencerahan pada manusia yang sangat percaya pada kemampuan umum IQ (Intelegence Quotient) sebagai kesatuan yang berdiri sendiri. Sehingga ada pergeseran aggapan pesertadidik yang memiliki IQ tinggi diatas 120 dianggap memiliki potensi yang besar untuk berhasil dalam belajar dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Padahal penelitian menunjukan IQ hanya memberikan sumbangsi 6% dalam meraih keberhasilan pekerjaan tertentu.
Kecerdasan Kenabian (Prophetic Intelegensi) yang ditawarkan oleh Hamdani Bakran Adz-Dzakiey mencoba meramu kecerdasan yang dimiliki para Nabi, khususnya Nabi terakhir Muhammad Saw, yang telah berhasil memecahkan persoalan-persoalan hidup (problem solving) para pengikutnya. Dengan metode ketauladanan, kearifan dan kasih sayang. Terbukti dari dulu sampai sekarang masih banyak manusia yang mengagumi, mentaati, segala prilaku yang dipertontonkan. Baik ucapan (qoul), perbuatan (af’al) maupun cita-cita (Taqrir).
Lebih tegas Wahab Ibnu Munabbih mengatakan Muhammad Saw adalah manusia yang paling tinggi kecerdasannya dan terbaik wawasannya. Ini berdasarkan bahwa kecerdasan yang diberikan Allah Swt. Kepada manusia, semenjak masa awal sampai zaman sekarang ini, bagaikan sebutir pasir dibandingkan kecerdasan Nabi Muhammad Saw.
Kecerdasan Kenabian
Kecerdasan (intelligence) kartono (2000) mengartikan kemampuan menangani situasi-situasi baru. Biscop (1954) kemampuan untuk memecahkan segalah jenis masalah. Sarwono (2010) kemampuan untuk mengelola lebih jauh hal-hal yang diamati, Steven J Stein dan Howard E (2003) kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio. Dari definisi tersebut dapat difahami kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki manusia.
Islam mengajarkan kemampuan mengelolah kehidupan di dunia (ekonomi, pendidikan, keluarga dan politik), juga mengembangkan kemampuan untuk mempertajam nilai-nilai penghambaan, ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt. dalam rangka meraih kesuksesan hidup di akherat nanti.
Kecerdasan kenabian mengajak pendidik mengadopsi dari berbagai kemampuan yang dimiliki para utasa Allah Swt, kesuksesan menjalankan amanah, menjadikan sebagai model pendidikan berbasis ketauladanan. Sungguh telah berhasil membawa tatanan sosial dan budaya manusia yang lebih beradab.
Bimbingan dan pengajaran Allah Swt telah mampu menumbuhkan kecerdasan Nabi Nuh As dalam membuat kapal yang pada saat itu belum ada teknologi perkapalan. kemampuan Nabi Daud As dalam menjinakan besi dan merangkainya menjadi baju yang digunakan dalam peperangan. Dengan kata lain Allah jugalah yang membuat kapal dan baju besi.
Proses mendapatkan kecerdasan kenabian diraih bukan semata-mata melalui proses layaknya manusia kebanyakan, akan tetapi melalui proses pembelajaran ke-Tuhanan yang bermuara pada keimanan dan ketakwaan pada Allah Swt. Artinya pesertadidik perlu diajarkan keimanan dan ketakwaan untuk selalu berada dalam bimbingan Allah Swt. Sehingga mampu mengembangkan logika berpikir yang menyejukan dan berwawasan akherat.
Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. akan mendorong dan mengerakkan eksistensi diri pesertadidik dalam ruang lingkup perlindungan, bimbingan, dan pengawasan-Nya. Melahirkan aktivitas interaksi, adaptasi, komunikasi, sosialisasi dan integritas yang ideal antara diri dengan lingkungan Tuhan, dan antara diri dengan lingkungan mahluk atau ciptaan-Nya.
Kondisi ketakwaan dan keimanan peserta didik secara otomatis akan membantu memecahkan permasalahan dan persoalan secara cepat dan tepat. Sebagaimana tertulis dalam firmannya Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282. Yang artinya “dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Nabi Muhammad Saw. terbukti telah mampu menjadi pemimpin ditengah-tengah masyarakat jahiliyah, penegak keadilan, pembangun mental spiritual moral umat secara terpuji dan dijadikan potret ketauladanan oleh para pengikutnya hingga akhir jaman.
Sudah menjadi kehendak Allah dengan menjadikan manusia untuk memilih dalam menghadapi pertentangan yang ada dalam dirinya. Barang siapa yang menyeimbangkan kebutuhan biologis dan psiritualnya, maka akan mendapatkan keberhasilan hidup, baik didunia maupun akherat. Allah telah menganugrahkan akal kepada manusia untuk membedakan hal yang baik dan buruk
Kecerdasan kenabian menghantarkan peserta didik mengetahui dan memahami proses pembelajaran yang dilakukan oleh para Nabi, khususnya sifat-sifat Nabi Muhammad Saw dan keagungan sebagai hamba yang memiliki eksistensi dan kepribadian Rabbani yang sempurna. Maka sangat layak dijadikan sebagai pusat kajian teoridan ilmu terapan.
Para pendidik seharusnya menjadi penggiat kecerdasan kenabian, contoh ketauladanan, menumbuhkembangkan keimanan, ketakwaan peserta didik. Semoga..


Dosen UPS
Komite SDIT Harapan Umat Brebes tinggal di Randusanga.
Psikologi Kepemimpinan
Oleh: Lukman Nur Hakim*

Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya, seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari)
Sungguh sangat berat beban seorang pemimpin (penguasa). Namun ironisnya, banyak orang ingin menjadi pemimpin, dari level yang paling bawah sampai level yang menasional. Apakah ada hubungannya dengan faktor kepuasan ketika bisa menjadi seorang pemimpin, atau karena ketika menjadi pemimpin banyak kesempatan untuk memuluskan jalan meraih hal-hal yang diinginkan, atau mungkin pula menjadi pemimpin merupakan sebuah kehormatan bagi dirinya?.
Dengan tidak menyadari konsekuensi seorang pemimpin, karir dikejar dan dianggap hal yang penting untuk diperebutkan. Padahal apabila kita sadar akan beban yang mesti ditanggung, mungkin banyak orang yang menolak menjadi “pemimpin”. Rendahnya keyakinan dan tanggung jawab kepada Tuhan, terkikisnya rasa malu dalam diri membuat banyak orang berlomba untuk menuju kepada label “pemimpin”.
Perlu dicatat, dalam meraih kepemimpinan. Seyogyanya seorang pemimpin memiliki sifat taqwa, cakap, jujur, tegas, berani, berilmu, disiplin, bijaksana, bersemangat, percaya diri, adil, dan komunikatif. Dia harus mampu melakukan perencanaan, membuat keputusan dan kontrol yang baik, memiliki tanggungjawab, perbuatannya sesuai dengan perkataannya, dan mendahulakan kepentingan orang banyak di samping kepentingan pribadi serta seorang pemimpin juga harus memiliki wawasan situasional.
Pada situasi yang berbeda selayaknya dihadapi dengan sikap serta gaya bertindak yang berbeda pula. Seorang pemimpin harus mampu membaca siapa yang dihadapinya, memahami kondisi psikologis pengikutnya, mampu membaca keinginan yang diharapkan rakyatnya, mampu membaca kemampuan/daya tangkap dari lawan bicaranya dan segudang kemampuan lain yang berhubungan dengan humanisme. Dengan kemampuan ini, ia akan menjadi sosok pemimpin yang selalu dirindu dan dipuja karena mampu “memanusiakan manusia” (Jawa: ngewongna wong).
Begitu banyaknya tuntutan yang harus dipenuhi apabila menginginkan menjadi sorang “pemimpin”. Ia juga sebaiknya memahami kebutuhan dan keinginan golongan atau masyarakat yang dipimpin karena kebijakan yang diambil tidak bisa lepas dari kepentingan rakyatnya. Merasakan derita apa yang dialaminya, bukan rakyat yang dijadikan korban untuk kepentingan ambisi pribadinya, apalagi sampai terjadi ada pemimpin (penguasa) yang mengolah anggaran negara/daerah untuk kolega dan keluarganya. Ia harus memahami posisi dirinya karena ia dipilih oleh rakyat dan untuk mengabdi kepada rakyat. Begitu pula masyarakat yang dipimpinnya, sebaiknya mampu menempatkan dirinya sebagai orang yang mematuhi pimpinannya. Sehingga keduanya memiliki hubungan yang harmonis dalam memajukan daerahnya.
Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Diperlukan
kerja sama, disiplin, dan komitmen yang menyeluruh, dan memiliki konsep diri yang kuat. Pemimpin sebaik apapun tidak akan berguna bila tidak didukung semua kalangan. Maka, setiap warga atau masyarakat hendaknya turut berkontribusi bagi sebuah kepemimpinan, paling tidak mereka mampu memimpin dirinya sendiri.
Sebagai ilustrasi, kita ambil ajaran Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Pemimpin harus berada di depan bila ia memimpin komando dan menjadi teladan. Pemimpin juga harus bisa di tengah pengikutnya ketika ia ingin mendengarkan suara hati orang orang di bawah kepemimpinannya dan ikut merasakan apa yang dialami masyarakatnya. Terkadang pemimpin harus berada di belakang ketika masyarakat perlu dukungan dan dorongan. Berarti pemimpin adalah makhluk serba bisa. Untuk itu diperlukan prinsip-prinsip yang menjadi dasar karakter seorang pemimpin agar mampu mengemban kepemimpinan ke arah yang diharapkan semua pihak
Kalau kita perhatikan dan cermati bahwa kepemimpinan sendiri adalah proses mempengaruhi prilaku orang lain atau memberi contoh dari seorang pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan, bukan prilaku yang direkayasa atau mendapatkan simpatisan sesaat saja. Sebagaimana diungkap oleh Kartini Kartono, mengartikan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Di beberapa kalangan masyarakat, masih ada kecenderungan mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah seorang yang memiliki sifat kharismatis. Sebagai contoh, beberapa sosok pemimpin karismatik, gambarnya banyak dipajang di rumah para pengagumnya, walaupun orang yang bersangkutan telah tiada. Hal ini menandakan sebagai perwujudan masih melekatnya pemimpin tersebut di hati para pengikutnya.
Max Weber, ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan karismatik, menegaskan bahwa kemampuan kepemimpinan kharismatis tidak dimiliki oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari Ilahi, atau suatu sifat yang khas dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling tidak memiliki daya-daya istimewa.
Setidaknya apabila kita amati fenomena sekarang ini, berapa banyak pemimpin ataupun calon pemimpin yang memajang gambarnya di tepi-tepi jalan, di pohon, di depan rumah. Kalau mereka adalah seorang pemimpin yang kharismatis yang memiliki pengagum tersendiri maka dipajangnya gambar akan menambah semangat dan menumbuhkan simpati bagi para pengikut dan pengagumnya. Namun sebaliknya, bila seseorang yang tidak suka pada gambar poster yang dipasang, akan memunculkan emosi kemarahan, gambar yang dipasang akan dirusak dan dibuang.
Seyogyanya pemimpin bisa menjadi teladan bagi semua elemen yang dipimpinnya. Ia mampu menjadi pengayom dan memiliki empati yang tinggi kepada semua pengikutnya. Betapa perasaan senasib sepenangungan sebagai prinsip empati merupakan alat yang ampuh untuk menarik simpati. Siapa pun akan tersentuh bila pemimpin mengetahui penderitaan dari masyarakatnya, dia langsung membantu bukan sekedar basa basi, tetapi empati menjadi sifat dasar dari kepribadiannya.
Bangunan yang baik, kokoh dan indah tentunya tidak hanya terdiri dari satu elemen, tetapi terdiri dari berbagai elemen yang ada di dalamnya. Tentunya, penempatan dan penggunaan masing-masing elemen itulah yang sangat mempengaruhi bagaimana kualitas bangunan tersebut. Perumpamaan sederhana ini bisa kita gunakan untuk memahami tugas seorang pemimpin dalam menempatkan, memberdayakan mereka yang berada dalam kepemimpinannya
Semoga semua pimpinan kita, memahami posisi dirinya, memahami prinsip amanah, dan mengedepankan keilmuan dan amal sholeh dalam menjalankannya. Menyadari bahwa segala apa yang diperbuatnya di dunia, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa.

*Penulis adalah Dosen UPS
dan Pengurus Majlis Al-Khusaini Brebes

Minggu, 15 Januari 2012

Lidah Tidak Bertulang
Salah satu praktek yang harus ditempuh para sufi dalam perjalanan mereka mendekati Tuhan disebut dengan Al-Shumt. Dalam praktek ini, seorang sufi berusaha mengendalikan lidahnya dengan membiasakan diri untuk banyak diam dan mengurangi pembicaraan.
Dalam kitab Ihyâ ‘Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali menceritakan seorang saleh yang mempunyai kebiasaan untuk bicara hanya setelah salat Isya saja. Kebiasaan ini ia kerjakan selama lebih dari empat puluh tahun. Jika tidak ada hal yang sangat perlu untuk ia bicarakan, ia lebih memilih untuk diam. Dengan ini ia mengurangi pembicaraannya hampir pada tingkat nol. Menurut Sayyid Haidar Amuli, jika kita menutup mulut untuk tidak bicara, itu berarti kita mengizinkan hati kita untuk bicara lebih banyak. Sebenarnya kita memiliki hati yang selalu mengajak kita berbicara. Salah satu pembicaraan hati adalah mengecam perilaku-perilaku kita yang kurang baik. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Sungguh aku bersumpah demi hati yang selalu mengecam. (QS. Al-Qiyamah: 2)
Hati bisa berbicara. Ketika mulut seseorang terlalu banyak bicara, ia tidak akan dapat mendengar suara hati nuraninya. Suara hatinya tersumbat oleh riuhnya suara-suara mulutnya sendiri.
Tuhan memberikan isyarat-isyarat gaib-Nya kepada kita melalui hati kita. Jika kita terlalu banyak bicara, isyarat-isyarat gaib itu akan terhalang. Dalam Al-Quran, Allah swt menunjukkan kemurkaan-Nya kepada orang-orang yang berbicara: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu membicarakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Al-Shaf: 3) Meskipun demikian, dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa kemampuan bicara adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah seperti dinyatakan dalam surat Al-Rahman: Tuhan Yang Mahapemurah, Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara. (QS. Al-Rahman: 1-4)
Masih dalam Ihyâ Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali mengelompokkan pembicaraan kepada empat macam. Pertama, pembicaraan yang hanya mengandung bahaya saja dan tidak memiliki manfaat. Kedua, pembicaraan yang mempunyai manfaat dan tidak di dalamnya tidak mengandung bahaya. Ketiga, pembicaraan yang selain ada manfaatnya juga ada bahayanya. Keempat, pembicaraan yang tidak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat.
Pembicaraan yang banyak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat jelas harus kita hindari. Kita pun harus menghindari pembicaraan yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada bahayanya. Pembicaraan seperti itu adalah pembicaraan yang berlebihan. Nabi saw bersabda, “Manusia yang paling baik adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan omongannya.”
Jenis pembicaraan yang ketiga, yaitu pembicaraan yang selain ada manfaatnya juga ada bahayanya itu juga lebih baik kita hindari. Sesuai satu dalil dalam Ushul Fiqh yang menyatakan bahwa bahwa bila di dalam satu unsur terdapat bahaya sekaligus manfaat, maka unsur itu harus kita tinggalkan. Misalnya, di dalam rokok terkandung manfaat dan bahaya sekaligus. Yang harus lebih dahulu kita perhatikan adalah bahaya yang terdapat dalam rokok itu. Karena itu, kita tinggalkan rokok. Demikian pula halnya dengan minuman keras. Al-Quran bercerita tentang manfaat yang ada dalam minuman keras namun bahaya yang terdapat di dalamnya lebih besar: Katakanlah pada keduanya itu (khamar dan judi) terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. (QS. Al-Baqarah: 219)
Imam Al-Ghazali hanya memperbolehkan satu jenis pembicaraan saja; yaitu pembicaraan yang hanya memiliki manfaat dan tidak mengandung bahaya.

Keutamaan Diam
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang diam, dia pasti selamat.” Sementara pada waktu lain, Rasulullah saw berkata, “Diam itu kearifan tetapi sangat sedikit orang yang melakukannya.”
Hadis lain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Sufyan menceritakan seseorang yang datang menemui Rasulullah saw. Orang itu meminta, ”Wahai Rasulallah, ceritakan kepadaku tentang Islam, yang setelah engkau tiada aku tidak akan bertanya lagi kepada siapa pun.” Nabi menjawab, ”Katakanlah: Kamu beriman kepada Allah lalu beristiqamahlah kamu.” Orang itu bertanya lagi, ”Ya Rasulallah, dari hal apa aku harus berhati-hati?” Rasulullah saw menjawab dengan isyarat tangan yang menunjuk kepada lidahnya.
Uqbah bin Amir pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulallah, apakah arti dari keselamatan itu?” Nabi saw menjawab, ”Kendalikanlah lidah kamu; jadikanlah rumahmu sebagai tempat yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman dengan kehadiran orang-orang saleh;, dan menangislah akan kesalahan kamu.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin menjaminkan kepadaku apa yang ada di antara kedua gerahamnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, aku jaminkan bagi dia surga.”
Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah saw berkata, ”Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya dan tidak akan lurus hati seseorang sebelum lurus lidahnya. Dan tidak pernah masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya.” Orang yang lidahnya senang mengganggu tetangganya diharamkan masuk surga. Di zaman Nabi, suatu hari dilaporkan kepada Nabi perihal seorang perempuan yang kerjanya setiap hari berpuasa dan setiap malam salat tahajud, tetapi perempuan ini sering menyakiti hati tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah saw mengatakan, “Dia berada di neraka.”
Seorang Arab dari dusun pernah datang menemui Nabi saw seraya berkata, ”Wahai Rasulallah, tunjukanlah aku kepada satu amal yang bisa memasukkan aku ke dalam surga.” Nabi berkata, ”Berikanlah makanan kepada yang lapar, berikanlah minuman kepada yang dahaga, perintahkan kebaikan, dan larang keburukan. Jika engkau tidak mampu melakukan itu semua, tahan lidahmu kecuali untuk yang baik saja.”
Sebuah hadis yang lain menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Amal yang paling ringan dilakukan tubuh kita adalah diam.” Diam adalah satu-satunya amal yang bentuknya tidak sulit untuk dikerjakan tetapi dalam prakteknya susah untuk dilakukan, padahal diam merupakan amal saleh. Dalam riwayat lain, Rasulullah berkata, ”Selamatnya manusia adalah karena ia memelihara lidahnya. Ketergelinciran lidah lebih berbahaya daripada luka-luka di dalam tubuh.” Ketergelinciran lidah adalah kebinasaan yang paling berat.
Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Demi Allah Yang tiada Tuhan kecuali Dia, tidak ada yang kita perlukan untuk kita penjarakan selama-lamanya selain lisan kita.” Thawus Al-Yamani, salah seorang sufi besar, pernah berkata, “Lidahku adalah binatang buas. Kalau aku lepaskan dia, dia akan memakanku.” Wahab bin Munabbih menyebutkan, ”Wajiblah buat orang yang berakal untuk bertindak arif dalam mengetahui keadaan zamannya dan menjaga lisannya serta memperhatikan urusannya.” Seorang tokoh sufi lain, Hasan Al-Bashri, berkata, ”Belum sempurna agama seseorang sebelum dia menjaga lisannya.”
Dalam Nahjul Balâghah, Imam Ali berkata, ”Al-lisân mîzânul insân. Lidah itulah ukuran manusia.” Dalam riwayat lain, Imam Ali menyebutkan, ”Lisan itu adalah penerjemah hati.” Imam Ali juga berkata, ”Betapa banyaknya darah tertumpah karena lidah; betapa banyaknya manusia yang binasa karena lidahnya; dan betapa banyaknya ucapan yang menyebabkan kamu kehilangan kenikmatan. Maka simpanlah perbendaharaan lidahmu sebagaimana kamu menyimpan perbendaharaan emas dan uangmu.” Ucapan Imam Ali yang lain tentang hal ini adalah, “Kecelakaan manusia karena lidahnya dan keselamatan manusia terletak dalam pengendalian lidahnya”

Kejahatan Lidah
Imam Al-Ghazali menyebutkan beberapa kejahatan yang dapat dilakukan oleh lidah kita. Hanya satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari kejahatan lidah, yaitu dengan jalan diam.
Kejahatan lidah yang pertama adalah berbicara hal-hal yang tidak perlu. Nabi saw bersabda, ”Seseorang tidak dianggap mukmin sebelum dia menghindari segala sesuatu yang tidak perlu baginya.” Ciri seorang muslim yang baik ialah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat darinya.
Anas, seorang sahabat Nabi, bercerita; Suatu hari pada Perang Uhud, aku melihat seorang pemuda yang mengikatkan batu ke perutnya lantaran kelaparan. Ibunya lalu mengusap debu dari wajahnya sambil berkata, ”Semoga surga menyambutmu, wahai anakku.” Ketika melihat pemuda yang terdiam itu, Nabi berkata, ”Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Kalau engkau temukan seseorang yang sangat berwibawa dan banyak diamnya, ketahuilah mungkin ia sudah memperoleh hikmah.”
Kejahatan kedua adalah pembicaraan yang berlebihan. Kelebihan pembicaraan dapat terjadi bila kita ingin menunjukkan kefasihan pembicaraan kita kemudian kita hias pembicaraan kita dengan hal-hal yang tidak perlu, agar orang lebih tertarik pada omongan kita. Penyebab kelebihan pembicaraan juga adalah adanya sikap ingin menunjukkan kepada orang lain tentang sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk kita tunjukkan. Terkadang kita sering berbicara kepada orang tentang sesuatu yang sebenarnya orang lain tidak berkepentingan dengan hal itu. Tetapi lidah kita gatal untuk menceritakannya pada orang lain.
Banyak berbincang-bincang atau mengobrol juga termasuk ke dalam kategori pembicaraan yang berlebihan. Al-Quran menyebutkan, ”Tidak ada kebaikan pada banyaknya suatu obrolan kecuali dalam perbincangan itu ada perintah untuk bersedekah, berbuat baik, atau perintah untuk mendamaikan sesama manusia.” (QS Al-Nisa: 114) Dalam suatu hadis disebutkan, ”Berbahagialah orang yang menahan kelebihan pembicaraannya dan membelanjakan kelebihan hartanya.”
Kejahatan ketiga adalah mengobrol tentang hal-hal yang batil. Di hari akhirat nanti, terjadi perbincangan antara para penghuni surga dan para penghuni neraka. Ahli surga bertanya kepada ahli neraka, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke neraka?” Para ahli neraka menjawab, “Dahulu kami tidak pernah melakukan salat, tidak memberi makan kepada orang miskin, dan kami biasa mengobrolkan hal-hal yang batil dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir: 42-45).
Kejahatan lidah yang keempat adalah berdebat. Debat memang berguna bagi murid yang sedang belajar. Tetapi bagi seorang alim, debat adalah sesuatu yang harus ia hindari. Seringkali lidah kita gatal untuk mendebat seseorang. Kita menikmati perdebatan karena dengan perdebatan kita dapat memuaskan nafsu binatang buas yang ada pada diri kita. Sifat binatang buas ini mendorong kita untuk mengalahkan, menghancurkan, dan membuat kita lebih tinggi daripada orang lain.
Nabi berkata, ”Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, walaupun perdebatan itu benar, maka Tuhan akan berikan kepadanya tempat paling tinggi di surga. Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan yang batil, maka Tuhan akan bangunkan baginya rumah di taman-taman surga.” Dalam riwayat lain disebutkan Nabi bersabda, ”Janganlah engkau debat saudaramu; janganlah engkau lawan dia; dan janganlah engkau menjanjikan sebuah janji kepadanya lalu kau langgar janji itu.”
Kejahatan lidah yang kelima adalah perkataan yang di dalamnya terkandung unsur permusuhan, kedengkian, menyakitkan, serta menjatuhkan harga diri orang lain. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari; Suatu saat ada sahabat yang mencemooh Imam Ali kw karena kepalanya yang tidak berambut. Orang itu berkata, ”Hai, lihat! Sudah datang Si Botak!” Mendengar ucapan itu, Nabi berkata, ”Janganlah kau kecam sahabat-sahabatku.”
Kejahatan keenam adalah melebih-lebihkan pembicaraan untuk menunjukkan kefasihan dalam berbicara. Diriwayatkan dari Sayyidah Fatimah as, Nabi saw pernah bersaba, ”Sejelek-jeleknya umatku ialah orang yang di pagi harinya banyak memperoleh kenikmatan, lalu ia makan dan berpakaian secara berlebihan, dan ia banyak melebih-lebihkan pembicaraannya.”
Kejahatan lidah yang ketujuh adalah lidah yang sering mengucapkan kata-kata kotor. Rasulullah saw bersabda, ”Bukanlah seorang mukmin orang yang kata-katanya kotor, kasar, menusuk, dan melaknat.” Kata-kata kotor adalah kata-kata yang apabila kita mengucapkannya kita dianggap tidak sopan. Sedangkan kata-kata kasar adalah kata-kata yang sebaiknya tidak kita ucapkan karena ada kata-kata lain yang jauh lebih halus. Seorang mukmin harus bisa menyampaikan makna ingin diutarakannya dengan bahasa yang halus.
Di sisi lain, Islam pun memuji orang-orang yang berkata jujur dan apa adanya, seperti Abu Dzar Al-Ghifari. Rasulullah saw bersabda, “Di bawah kolong langit ini, di atas bumi yang hijau ini, tidak ada lidah yang lebih jujur daripada lidah Abu Dzar.” Tetapi Abu Dzar juga pernah ditegur oleh Rasulullah saw karena terlalu jujur dalam berkata. Suatu saat, Abu Dzar bertengkar dengan sahabat Amar bin Yasir. Amar adalah orang yang berkulit hitam karena ada garis keturunan dari ibunya yang berkulit hitam. Ketika bertengkar, Abu Dzar berkata kepada Amar, “Hai, anak perempuan berkulit hitam!” Rasulullah saw mendengar hal itu. Ia menegur Abu Dzar, “Celakalah kamu, Abu Dzar! Tidak ada kelebihan orang berkulit putih di atas orang berkulit hitam; (tidak ada kelebihan) orang Arab di atas orang ‘Ajam.” Mendengar ucapan Rasulullah saw tersebut, Abu Dzar langsung merebahkan tubuhnya. Ia letakkan pipinya di atas tanah lalu memerintahkan Amar untuk menginjak kepalanya sebagai tebusan ucapannya tadi.
Kejahatan lidah yang kedelapan adalah melaknat. Sementara kejahatan yang kesembilan adalah lebih banyak bernyanyi daripada membaca Al-Quran. Al-Ghazali menyebutkan ada nyanyian-nyanyian yang diperbolehkan dalam Islam untuk kita nyanyikan. Tapi sebagian besar nyanyian itu tidak bermanfaat dan melalaikan kita dari Allah. Nyanyian yang baik adalah nyanyian yang di dalamnya ada ungkapan-ungkapan kerinduan kepada Allah dan terkandung pujian-pujian untuk Allah swt.

Minggu, 25 September 2011

Dalam keseharian sering kali kita mendengar ungkapan kalimat alhamdulillah, atau disebut hamdalah, diucapkan. Hal ini terutama untuk menyatakan perasaan bersyukur, penyelesaian suatu pekerjaan, kesembuhan dari suatu penyakit, jawaban terhadap pertanyaan tentang kabar, ungkapan terima kasih dan lain-lain. Apa sesungguhnya makna yang terkandung di dalam hamdalah tersebut?
Arti alhamdulillah pada dasarnya mengembalikan seluruh pujian kepada Allah SWT. Pujian apa pun yang terucap atau tergambarkan di alam ini, semuanya hanyalah milik Allah. Pujian yang sering dialamatkan kepada manusia, keindahan alam, keajaiban suatu kejadian dan sebagainya dalam konsep hamdalah menuju kepada Dzat Yang Satu.
Oleh karena itu tidak akan ada kesombongan yang ditampilkan, tidak akan ada kepongahan yang dipertontonkan oleh siapa pun yang merasa memiliki kelebihan di dalam dirinya, karena mereka sadar semua itu hanyalah property Allah. Yang wajar ditampilkan oleh kita manakala memperoleh pujian atau anugrah nikmat adalah mengucapkan kalimat alhamdulillah dengan sepenuh kesadaran akan maknanya.
Kaum cerdik pandai generasi terdahulu selalu memulai buku-buku karangannya dengan ungkapan alhamdulillah ini. Demikian pula mereka mewajibkan kepada semua khaatib shalat Jumat untuk memulai khutbahnya dengan ungkapan ini berdasarkan contoh Nabi SAW. Mereka tentunya juga ingin mencontoh Allah SWT dalam pembukaan kitab suci-Nya dengan kalimat alhamdulillah seperti termaktub di dalam surah Al-Faatihah.
Dalam kitab kuning Hasyiah Jauhar Tauhid karangan Imam Ibrahim Baijuri, disebutkan bahwa ungkapan alhamdulillah terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu puji qadiim (terdahulu) dan puji haadits (terkemudian). Puji qadiim terbagi dua lagi, yang pertama bahwa pujian itu adalah dari Al-Khaaliq kepada Al-Khaaliq. Ini berarti bahwa ucapan hamdalah adalah pujian Allah SWT kepada Diri-Nya sendiri, pujian ini pastilah milik Allah semata. Contoh pujian ini misalnya seperti tercantum di dalam Alquran bahwa “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr 22) dan lain-lain. Ayat-ayat tersebut menyatakan kemahaterpujian Allah di alam semesta ini. Allah memuji Dzat-Nya sendiri adalah suatu kepantasan karena tiada ada yang menandingi-Nya.
Yang kedua hamdalah mengandung makna pujian dari Al-Khaaliq kepada makhluk, yakni Allah SWT memuji makhluknya seperti pujian Allah kepada para nabi. Salah satu contoh pujian ini dapat disimak di dalam Alquran surah Al-Qalam 4, dalam hal ini Allah memuji Nabi Muhammad SAW yakni “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Pujian ini pun sesungguhnya milik Allah, karena Dialah yang telah menganugerahi Nabi dengan akhlak yang sangat mulia. Artinya keluhuran budi pekerti Nabi merupakan cerminan kemahaterpujian Allah jua.
Hamdalah mengandung makna pujian dari makhluk kepada Al-Khaaliq, yakni pujian-pujian makhluk, manusia khususnya, kepada Allah SWT. Pujian ini pun pada hakikatnya adalah milik Allah jua. Dalam ibadah ritual sehari-hari seperti shalat, ibadah haji dan lain-lain sarat dengan puji-pujian kepada Allah. Bahkan dalam satu sabdanya, Nabi SAW memberikan petunjuk bahwa bagi siapa saja yang akan berdoa kepada Allah, hendaklah ia memanjatkan puji kepada-Nya dan membaca shalawat kepada Nabi lebih dahulu. Oleh karenanya kemudian dalam Ilmu Fiqh hal ini menjadi syarat perlu sebagai bagian dari etika berdoa.
Pujian itu bisa berasal dari makhluk kepada makhluk. Pujian ini pun pada hakikatnya adalah milik Allah. Kekaguman kita kepada prestasi orang lain, binatang, tumbuh-tumbuhan adalah contoh-contoh pujian yang berasal dari makhluk ditujukan kepada makhluk juga. Dalam keseharian, pujian jenis keempat ini yang paling sering kita dengar karena merupakan bumbu-bumbu kehidupan lingkungan manusia dan alam sekitarnya.
Ucapan alhamdulillah pada dasarnya merupakan ekspresi untuk memperkuat nilai-nilai ketauhidan dan menumbuhkan sikap kehambaan yang makin dalam, mestinya. Wallaahu ‘alam.
Oleh: H Lukman Abdurrahman
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/02/22/165396-memaknai-hamdallah

Mencari Kebahagiaan

Suatu hari di sebuah sungai yang cukup jernih, hiduplah seekor ikan kecil muda usia. Saat itu, siang sangat terik, Sang Ikan mencari bagian sungai yang ternaungi pohon yang rindang. Sesekali dipukulkannya ekornya pada air di sekelilingnya.

Saat Sang Ikan sibuk dengan air yang menciprati tubuhnya, tiba-tiba terdengarlah suara dari balik rimbun pepohonan, “Ayah, indah sekali pemandangan di sini, yach! Pepohonan begitu rimbun, dan air sungai ini begitu jernih,” seru seorang anak kecil pada ayahnya.

“Yach … Alhamdulillah … itulah kebesaran Allah, Nak! Ia menciptakan sesuatu tanpa cela, hanya manusia saja yang kurang bersyukur” kata Sang Ayah sambil mengelus kepala anak kecil itu dengan lembut.

“Katanya air itu sangat penting, ya, Yah? Dan … tanpanya kita semua akan mati?” tanya anak kecil itu pada ayahnya.

“Ya, benar! Air itu sangat penting bagi kita. Setiap makhluk hidup membutuhkan air dan oleh karena itu kita bisa mati tanpa ada air dalam kehidupan kita, seperti juga ikan kecil itu!” seru Sang Ayah sambil menunjuk ikan kecil.

Si ikan kecil yang mengikuti percakapan antara ayah dan anak itu mendadak menjadi gelisah. “Air, apa itu air? Di mana dapat kutemukan air? Bagaimana juka aku mati bila aku tak dapat menemukan air secepat mungkin? tanya si ikan dalam hatinya sambil berenang dengan panik. Si ikan kecil berenang tanpa kenal henti.

Ketika ikan kecil mendekati hulu sungai, bertemulah ikan kecil tersebut dengan seekor ikan “sepuh”. Setelah menyampaikan salam kemudian ikan kecil itu bertanya, “Wahai ikan sepuh, dapatkah kau tunjukkan padaku, di mana air? Aku mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kita akan mati!” seru Si ikan kecil.

Ikan sepuh tersenyum bijak, kemudian berkata, “Anakku, tentu saja aku tahu di mana air, sekarang coba kau lihat samping kanan dan kirimu, lihat sekelilingmu, apa yang kau lihat?”

“Ya, ada benda yang mengelilingiku tiap waktu, kadang ia tenang dan bergelombang, dia membantuku untuk berenang, dia yang membasahi tubuhku, menghilangkan dahagaku, dan aku bisa mati kekeringan tanpa kehadirannya,” gumam Si ikan kecil.

Ikan sepuh tersenyum lagi, “Ya, itulah air yang kau cari selama ini, anakku. Itulah air yang membuat kita semua dapat mati bila hidup tanpa kehadirannya.

Si ikan kecil tertegun, kemudian tersenyum, “Terimakasih, ikan sepuh. Sekarang aku bisa menghentikan proses pencarianku. Aku bahagia bisa menemukan apa yang aku cari. Ternyata benda yang sangat penting yang selama ini aku cari sudah berada bersamaku sejak dulu tapi aku tidak menyadarinya,” ucap Si ikan kecil. Si ikan kecil kemudian memutar siripnya setelah sebelumnya berpamitan kepada ikan sepuh.

KITA MANUSIA, SERINGKALI TAK KUNJUNG MERASA PUAS AKAN PENEMPATAN YANG ALLAH BERIKAN PADA KITA. Dan kita seringkali tak sadar bahwa mungkin sebenarnya saat kita melakukan pencarian, ketika kita sedang letih … sebenarnya kita justru sedang menjalani kebahagiaan tersebut.

Karena kita seringkali tertipu, dengan arus air yang tidak selamanya tenang, karena kebahagiaan pun seringkali tidak mesti berwujud ketenangan. Karena kebahagiaan pun seringkali berwujud “riak-riak ombak” dalam kehidupan kita…. Tapi kita akan merasa bahagia bila kita nikmati dan lalui dengan sabar

Daftar Cek Masalah

Senin, 19 September 2011

Menjadi bijaksana


MENJADI BIJAKSANA
Satu ciri ketakwaan seseorang kepada Allah adalah sifat bijak dalam kehidupannya.
Yaa Ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsa wa ja'alnaakum syu'uubaw waqabaa-ila li ta'aarafuu inna akramakum'indallahi atqaakum innallaha 'aliimun khabiir (Qs.Al-Hujuraat ayat 13).
"Hai sekalian manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti". Ciri orang yang bertaqwa adalah dia merupakan orang yang bijaksana. Pertanyaan pertama ketika kita bercermin adalah apakan diri ini sudah bijak, jika jawabannya belum maka jadikanlah hal ini sebagai sebuah cita-cita.

Jika ada yang mengatakan rindu pemimpin yang bijak, jika kita mengatakan bahwa bangsa ini krisis keteladanan, maka jangan mencari teladan karena susah untuk ditemukan, untuk itu yang paling mudah adalah menjadikan kita sebagai tauladan paling tidak untuk keluarga, janganlah menuntut untuk mendapatkan presiden yang bijak karena akan susah untuk didapat, karena itu yang dapat kita lakukan adalah menuntut diri kita sendiri. Orang yang bijaksana itu merupakan suatu keindahan tersendiri, misalkan ketika menjadi seorang guru yang bijak biasanya sangat disukai oleh murid-muridnya. Seorang pemimpin yang bijak biasanya ia disegani oleh kawan maupun lawan, jika orang tua bijaksana maka akan dicintai oleh anak-anaknya.

Pada dasarnya kebijakan ini tidak susah untuk dimiliki. Ud'u illa sabiili rabbika bil hikmati wal mau 'izhatil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa'alamu bi man dhalla 'an sabilihii wa huwa a'lamu bil muhtadiin. Artinya: "Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".

Sumber kearifan dan kebijaksanaan dapat datang dari :

1. Sikap hidupnya yang siddiq yaitu orang yang sangat menyukai kebenaran, sekuat tenaga hidupnya berusaha berbuat benar dan selalu ingin membuat orang menjadi benar, semangat didalam hati akan cinta terhadap kebenaran, istiqomah dalam kebenaran dan ingin orang juga memiliki sikap yang benar maka hal tersebutlah yang membuat orang menjadi bijaksana.

2. Sikap hidup yang amanah, rasa tanggung jawab karena hidup yang hanya sekali dan ingin mempertanggung jawabkan hidup ini baik sebagai anak, ayah, orang tua, anggota masyarakat, sikap amanah ini timbul dari dalam jiwa kita.

3. Sikap hidup Fathonah, berwawasan luas, berilmu luas jadi begitu banyak pilihan sikap yang merupakan buah dari kecerdasan.

4. Sikap hidup yang Tabligh adalah dapat menyampaikan sesuatu dengan baik kebenaran. Sehingga menyebabkan mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa merusak tatanan yang ada.

BAGAIMANA CARA MENJADI ORANG BIJAK

1. Tidak Emosional, hal itu berarti orang yang temperamental, mudah marah, meledak-ledak, gampang tersinggung, sulit menjadi bijaksana dan hanya dapat menjadi bijak dengan pertolongan Allah dan kegigihan usaha untuk berubah, jadi orang yang bijak adalah orang yang terampil mengendalikan diri. Berhati-hatilah jika kita termasuk orang yang mudah marah maka jika bertindak biasanya cenderung tergesa-gesa. Orang-orang yang emosional tersinggung sedikit akan sibuk membela diri dan membalas menyerang, ini tidak bijaksana karena yang dicari adalah kemenangan pribadi bukan kebenaran itu sendiri.

2. Tidak egois, orang yang egois jelas tidak akan dapat menjadi bijak, karena bijak itu pada dasarnya ingin kemaslahatan bersama, orang yang egois biasanya hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah selalu hidup dalam pengorbanan, begitu pula Indonesia dapat merdeka oleh orang-orang yang berjuang penuh pengorbanan. Orang yang bijak adalah orang yang mau berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.

3. Suka cinta dan rindu pada nasihat, akan sangat bodoh jika kita masuk hutan tanpa bertanya kepada orang yang tahu mengenai hutan. Jika kita di beri nasihat seharusnya kita berterima kasih. Jika kita tersinggung karena di sebut bodoh maka seharusnya kita tersinggung jika disebut pintar karena itu tidak benar. Jika kita alergi terhadap kritik, saran, nasehat atau koreksi maka kita tidak akan bisa menjadi orang yang bijak. Jika seorang pemimpin alergi terhadap saran atau nasehat, bahkan memusuhi orang yang mengkritik, maka dia tidak akan pernah bisa memimpin dengan baik.

4. Memiliki kasih sayang terhadap sesama, Rasa sayang yang ada diharapkan tetap berpijak pada rambu-rambu yang ada seperti ketegasan. Diriwayatkan bahwa orang yang dinasehati oleh Rasulullah secara bijak berbalik menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Orang-orang yang bijak akan sayang terhadap sesama. Berbeda dengan orang-orang yang hidup penuh dengan kebencian, dimana kepuasan bathinnya adalah menghancurkan orang lain. Pemimpin sebaiknya memiliki kasih sayang yang berlimpah tidak hanya pada waktu kampanye saja. Kasih sayangnya juga tidak hanya untuk satu pihak atau kelompok melainkan merata untuk semua golongan.

5. Selalu berupaya membangun, Orang yang bijak tidak hanyut oleh masa lalu yang membuat lumpuh tetapi selalu menatap ke depan untuk memperbaiki segalanya. Orang yang bijak akan membangkitkan semangat orang yang lemah, menerangi sesuatu yang gelap. Jika melihat orang yang berdosa, maka ia akan bersemangat untuk mengajak orang tersebut untuk bertaubat. Orang yang bijak ingin membuat orang maju dan sangat tidak menyukai kehancuran dan kelumpuhan kecuali bagi kebathilan. Semangat orang yang bijak adalah semangat untuk maju tidak hanya untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain disekitarnya.

Jadi yang dibutuhkan pada seorang pemimpin bijak adalah pribadi yang tidak emosional, tidak egois, penuh kasih sayang, cinta akan nasihat dan memiliki semangat terus menerus untuk membangun dirinya, ummat serta bangsa ini, dia tidak akan peduli walaupun dibalik kebangkitan yang ada dia mungkin akan tenggelam. Pemimpin yang bijak tidak peduli akan popularitas dan tidak peduli dengan adanya pujian manusia karena kuncinya adalah ketulusan dan tidak mengharapkan apapun dari yang telah di lakukan, adalah tidak akan bisa bijak jika kita mengharapkan sesuatu dari apa yang kita lakukan. Kita hanya akan menikmati sikap bijak jika kita bisa memberikan sesuatu dari rizki kita, bukannya mengharapkan sesuatu dari yang kita kerjakan.
Alhamdulillaahirobbil’alamin